Call Me Fay

a place to share :)

crazy-love

Review Buku Crazy Love

| 1 Comment

Judul Buku: Crazy Love
Pengarang: Francis Chan

Awalnya, waktu aku pertama kali denger tentang buku ini aku ga tau kalo ini buku best seller (versi Inggris-nya). Tapi pas aku liat overview ‘n juga download video-video di websitenya www.crazylovebook.com, kayaknya ni buku bagus banget. Plus aku juga suka cara buku yang interaktif kayak gini. Coz selain kita baca buku, di websitenya ada video-video buat setiap bab. So baca buku + liat video itu berasa lebih lengkap coz kan memang ada hal-hal yang perlu dibayangkan ‘n direnungkan yang ga bisa dijelasin hanya lewat tulisan. Buku “Crazy Love” versi bahasa Indonesia diterbitkan oleh Benaiah Books.

Overall, lewat buku ini aku banyak diingatkan dan ditegur tentang hubunganku secara pribadi ama Tuhan. Banyak hal-hal penting tentang kehidupan dalam Tuhan yang belakangan ini sempat terlupakan gara-gara kesibukan ‘n pikiran-pikiran tentang hal-hal yang duniawi. Banyak kena tempelak juga coz ternyata selama ini aku masih suam-suam kuku, jadi bertobat dan bener-bener berkomitmen lagi buat mulai segala sesuatunya dengan fokus yang bener ‘n cara yang bener.

Bab 1: Berhentilah Berdoa
Abis baca bab ini aku baru sadar kalo selama ini aku ga sepenuhnya hidup buat Tuhan. Coz keputusan-keputusan yang aku pertimbangkan masih berfokus ke diriku sendiri. Apa yang baik buat aku, apa yang aku suka, apa yang enak buat aku… Bukan apa yang Tuhan mau… Dan aku mau membiasakan diri buat selalu sadar akan kehadiranNya, akan Siapa Dia dan siapa aku di dalam Dia.

Bab ini juga mengingatkan kalo kita seringkali berdoa tanpa mikir, kita gampang banget berkata-kata di depan Dia yang seringkali isinya permintaan tentang kepentingan kita sendiri. Kita perlu mengingat bahwa Tuhan itu kudus, kekal, adil dan benar, maha tahu dan maha kuasa.

Bab 2: Anda Mungkin Tidak Sempat Menyelesaikan Bab Ini
Ga bisa dipungkiri bahwa kita bisa meninggal kapan aja. Tapi seringkali cara kita menjalani hidup sehari-hari itu seolah-olah seperti kita akan hidup selamanya di bumi. Kita membuat rencana-rencana, stress dan kuatir akan semua permasalahan kita, tanpa menyadari bahwa pusat dari film kehidupan itu Tuhan, bukan kita. Quote yang bagus dari bab ini:

Kekhawatiran menyiratkan bahwa kita tidak benar-benar percaya bahwa Tuhan cukup besar, cukup berkuasa, atau cukup mengasihi kita, sehingga Dia mau menangani hal-hal yang terjadi dalam hidup kita. Stress mengatakan bahwa hal-hal yang kita kerjakan sangat penting sehingga tidak salah untuk menjadi tidak sabar, kurang sopan terhadap orang lain, atau ingin mengendalikan keadaan.”

Bagian kita dalam hidup yang sementara ini adalah untuk membawa kemuliaan bagi Tuhan dalam segala hal yang kita lakukan (1 Kor 10:31). Dan kadang-kadang Tuhan memang mengijinkan kita merasa lemah, ga bisa mengendalikan semua keadaan, supaya kita sadar kalau kita butuh pertolongan Tuhan. Bab ini mengingatkan aku bahwa hidup itu singkat, dan pada akhirnya nanti, bukan reputasi kita dimata dunia yang berarti, tapi reputasi/bagaimana Tuhan memandang kita.

Bab 3: Cinta Kasih yang Tidak Masuk Akal
Kasih Tuhan selalu harus jadi dasar dari iman kita ‘n juga motivasi kita dalam melakukan apapun juga. Buat aku pribadi, masih ada saat-saat dimana aku ga bener-bener percaya ‘n yakin bahwa kasih Tuhan itu sempurna. Kalau kita berusaha untuk menyenangkan Tuhan dengan usaha kita sendiri, pasti gagal, karna kita butuh penyertaanNya untuk bisa melakukan rencanaNya. Kata-kata yang paling menginspirasi di bab ini: “Melalui ilustrasi ini, saya menyadari bahwa saya tak perlu khawatir bahwa saya tak dapat memenuhi harapanNya. Tuhan akan memastikan keberhasilan saya sesuai dengan rencanaNya, bukan rencana saya.”

Bab 4: Seperti Apakah “Orang yang Suam-suam Kuku” Itu?
Wah bab yang ini nempelak abis dah… Apalagi kata-kata yang ini: “Jangan sekali-kali berasumsi bahwa anda sendiri merupakan tanah yang baik.” Firman Tuhan di Mat 22:37-38 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” memang ga asing lagi. Tapi justru karna ga asing itu kita sering nanggepinnya biasa aja. Padahal kalo direnungin ‘n dipikirin secara detil gimana prakteknya dalam setiap hal yang kita lakuin, kayaknya masih banyak sobeknya (bukan bolong lagi, soalnya sering lebih banyak enggak-nya)… Responku abis baca ini kayak yang Paulus bilang, “…aku ini manusia celaka…” (Roma 7:24) Bertobat banget….

Trus bagian yang mengena lagi, kita lebih sering terfokus ama jadwal ‘n daftar kegiatan kita setiap hari. Kehidupan kita yang selanjutnya sering ga terpikirkan karna kita terlalu sibuk ngurusin apa yang ada di dunia yang sementara ini. Kita pikir dengan punya daftar kesibukan kita sudah punya hidup yang produktif ‘n efektif. Padahal belum tentu hal-hal itu produktif ‘n efektif menurut Tuhan.

Bab 5: Memberikan Sisa-sisa kepada Allah yang Kudus
Ini masih lanjutan bab 4 yang menempelak… Kalo selama ini kita udah menjalani hidup yang baik-baik aja, aktif di gereja, pokoknya nama baik kita bersih deh… sebenernya kita justru rawan banget jatuh. Karna walopun orang lain melihat kita oke banget, sukses, baik, ga pernah terlibat dosa yang “besar” (padahal dosa ya dosa… ga ada besar kecil… itu kan ukuran yang kita bikin sendiri…) – Tapi Tuhan melihat semuanya, dan Tuhan tahu persis kondisi hati kita, apakah mata kita masih tertuju kepadaNya, atau sudah melenceng.

Seringkali kita cenderung memberikan yang setengah-setengah atau sisa-sisa ke Tuhan tanpa kita sadari hanya karna Dia ga keliatan secara fisik. Kalo kita yang manusia biasa aja ga suka kalo dikasih yang setengah-setengah, apalagi Tuhan yang kudus. Ga ada orang yang senang kalo dipuji hanya karna kewajiban atau dipuji karna orang yang memuji mau “mengambil hati” kita dulu sebelum dia minta tolong. Kalo ada udang di balik batu alias ga tulus, lebih baik ga usah memuji. Ga ada orang yang senang kalo dikasih hadiah yang cacat (misalnya dikasih iPad tapi iPadnya ada fungsi yang rusak atau ada bagian yang bocel parah), lebih baik ga usah dikasih hadiah. Ga ada orang yang senang kalau pasangannya menelpon hanya karna kewajiban atau menelpon tapi ternyata aslinya lagi main game / ga fokus dengerin ‘n ngobrol.

Tuhan ingin keputusan kita untuk mengikut Dia itu lahir dari hati, dan kalau kita sudah mempertimbangkan dan akhirnya membuat keputusan, kita ga setengah-setengah menjalaninya. Inilah kenapa Yesus bilang:

“Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi muridKu. Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, sambil berkata: Orang itu mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya…”

Jangan sampai kita yang awalnya ingin menjadi berkat buat orang lain, tapi karna kita serba setengah-setengah dalam Tuhan, bukannya jadi berkat tapi kita malah jadi bahan ejekan atau malah bikin orang lain jadi kepahitan…

“Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi muridKu.” (Luk 14:33) kata-kata Yesus ini masih dalam 1 perikop yang membahas tentang mengikut Dia. Dan masih sangat berhubungan dengan kata-kata Yesus selanjutnya tentang garam yang menjadi tawar…

Bab 6: Ketika Anda Jatuh Cinta
Kasih Tuhan itu sempurna, dan kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan (1 Yoh 4:18). Kalau kita mengasihi Tuhan, apapun yang kita lakukan, yang dimotivasi dari kasih kita kepadaNya, ga akan terasa seperti sebuah pengorbanan. Sama seperti kalau kita menyayangi seseorang, kita dengan sendirinya bersedia melakukan apapun juga sebagai ungkapan kasih kita kepada orang itu. Kita ga bakal hitung-hitungan untung rugi, kita ga bakal sempat mikir “Nanti kalau aku ga ngelakuin ini, dia nolak aku… Nanti kalau aku ga ngelakuin itu, dia marah…”

Tapi, untuk bisa mengasihi Tuhan, kita ga bisa berusaha dengan kekuatan kita sendiri. Bahkan untuk mengasihi Tuhan kita juga perlu belajar dari Dia. Karna Dia sendiri adalah Kasih. Kita perlu menerima kasihNya sebelum kita bisa mengasihi Dia dan orang lain dengan kasihNya yang sempurna.

Bab 7: Hidup Terbaik Anda… Nanti
Bab ini mengingatkan lagi bahwa kehidupan kita yang sejati itu bukan selama di dunia ini, tapi nanti. Karna itu Yesus bilang di Mat 6:20 supaya kita mengumpulkan harta di Surga, dan Paulus juga menulis di Kol 3:2-3 “Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.”

Seringkali kita terbawa arus pola pikir duniawi yang terfokus untuk berusaha mencari banyak uang, membeli rumah mewah, punya kendaraan mewah, memperindah penampilan, dan hal-hal lain yang menyatakan bahwa hidup kita di dunia ini sangat penting, segala-galanya. Padahal masa hidup kita di dunia ini cuma sebagian kecil dari kekekalan yang akan kita jalani setelah ini.

Kalau kita punya pola pikir dan iman kekekalan, itu akan terlihat dari cara hidup kita dan prioritas kita. Hal yang sama juga berlaku sebaliknya. Saat kita bertemu dengan Yesus nanti, Yesus ga nanya apakah kita sudah sukses dalam karir, apakah kita ga pernah absen ke gereja dan saat teduh, dan hal-hal lain yang dianggap penting menurut ukuran dunia.

Yesus cuma bilang “Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” atau “Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.”

Bab 8: Seperti Apakah “Orang yang Terobsesi” itu?
Orang yang terobsesi dengan Tuhan ga akan terlihat sama dengan rata-rata orang yang “baik”. Ada saat-saat dimana kita memberi sesuatu kepada orang lain karna kita punya harapan tertentu (misalnya supaya bisa menjalin hubungan baik, dimuluskan kerjaannya, supaya nantinya dia juga memberi ke kita, dll). Dan seringkali kita (otomatis) mengasihi hanya orang-orang yang juga mengasihi kita, baik kepada orang-orang yang juga baik ke kita. Tapi orang yang punya kasih Tuhan akan terkesan seperti “gila” menurut dunia, karna bisa memberi dengan bebas tanpa ada embel-embel, dan bisa mengasihi orang yang membenci mereka, sudah berbuat jahat pada mereka, sudah menyakiti mereka, dan juga orang-orang yang ga bisa membalas kasih mereka.

Orang yang terobsesi dengan Tuhan ga mementingkan keselamatan nyawanya atau kenyamanan pribadinya di atas segalanya. Mereka lebih peduli untuk menaati Tuhan daripada mengikuti apa yang dianggap baik menurut kebanyakan orang atau pola pikir dunia. Ada banyak ciri-ciri orang yang terobsesi dengan Tuhan yang dibahas di bab ini, dan itulah yang seharusnya menjadi karakter dari anak-anakNya. (aku tertempelak banyak di sini…)

Bab 9: Siapa yang Benar-benar Hidup Seperti Itu?
Di bab ini ada kisah-kisah nyata dan orang-orang nyata yang terobsesi dengan Tuhan dan apa yang mereka lakukan dalam hidup mereka. Ada yang sekarang sudah meninggal dan ada yang sampai sekarang masih terus melakukan apa yang sudah mereka mulai, mengasihi Tuhan dan mengasihi orang lain seperti diri mereka sendiri. Bukti bahwa Tuhan itu nyata bukan hanya dalam hidup para Rasul di jaman Perjanjian Baru, tapi sampai sekarang.

Bab 10: Inti Permasalahannya
Dari bab-bab sebelumnya, kali ini Francis Chan mengajak kita buat mikir langkah-langkah praktis apa yang bisa kita lakukan sebagai respon terhadap semua kebenaranNya. Masing-masing dari kita punya posisi tersendiri dalam tubuh Kristus, karna itu kita juga ga bisa memaksa orang lain meniru keputusan kita. Quote yang bagus dari bab ini: “Jangan sekali-kali pengalamanmu dijadikan sebuah prinsip; biarkan Tuhan berurusan dengan orang lain se-asli seperti Ia se-asli denganmu.” Dan pertanyaannya adalah: “Bagaimana Anda akan menjawab Sang Raja ketika Ia berkata: Apa yang kamu lakukan dengan apa yang Kuberikan kepadamu?”

…….

Overall, isi buku ini bikin aku mikir ulang, introspeksi tentang kehidupanku ‘n hubunganku ama Tuhan. Memang firman-firman yang dikutip di dalamnya itu nggak asing lagi, tapi kalo kita baca sambil renungin dalem-dalem ‘n periksa kehidupan dan diri kita sendiri, kita pasti banyak dapet reminder, teguran, dan dorongan untuk mulai membenahi hidup kita, membenahi hubungan kita ama Tuhan, memperbarui komitmen kita untuk menjadikan Tuhan sebagai fokus ‘n prioritas utama, bukan karna kewajiban, tapi karna Dia sangat mengasihi kita, karna kasih. Dan kalau kita sudah menerima kasihNya yang memulihkan ‘n membebaskan, kita ga bakal mau jadi setengah-setengah lagi ‘n hidup jauh dari Tuhan.

One Comment

  1. Yo non, gue cuma mo kasih info 🙂 heheheh

    For those yg mao tau beli bukunya dimana, you can get this book at http://www.lilinkecil.com.

    Paling murah di situ sih, but cuma sampe promo period aje… 🙂

Leave a Reply